Minggu, 01 Maret 2015

Munajat Cinta Seorang Hamba


 Hasil gambar untuk gadis sedang shalat dan berdoa


Minggu 1 Maret 2015
Tersungkur aku di hening subuh
Menengadah  tanganku kepadaMu wahai sang pemberi kenikmatan
Aku tak tau harus mengadu pada siapa selain kepadaMu
Engkaulah satu satunya yang tahu bagaimana aku saat ini.
Ya Rabb  mampukah diri ini menjalani hidup ini
Tatkala orang orang yang aku cintai satu persatu  meninggalkanku
Mampukah aku bertahan..... ???
Menjalani hidup  dan menghadapi hidup yang aku idamkan
Ya Rabb Engkau maha segala galanya bagiku
Tak mampu aku menolak disaat Engkau memberi dan mengambil milikku
Aku hanya berpasrah dan berfikir serta merenung inilah jalan hidup yang terbaik bagiku
Aku tahu,  Engkau maha mengetahui apa yang tidak aku ketahui
Aku tahu, Engkau mengetahui apa yang akan terjadi padaku saat ini dan dimasa mendatang
Aku tahu, aku hanyalah makhluk yang kau ciptakan lemah
Tapi aku yakin dengan bersandar padaMu aku akan menjadi kuat.
Karena aku tahu Engkaulah tempat bersandar sejati bagiku.
Ya Rabb aku tiitip perasaan rindu ini kepadaMu sampai saat itu tiba.

Sabtu, 28 Februari 2015

1001 Kisah Teladan:PERANG BADAR KUBRA

PERANG BADAR KUBRA
Alkisah Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam menerima kabar bahwa sebentar lagi kafilah dagang Quraisy yang dipimpin Abu Sufyan akan melintas dari perjalanan pulang mereka dari Syam. Maka, Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam mengumpulkan kaum muslimin dan kemudian bersabda kepada mereka, "Kafilah bangsa Quraisy sebentar lagi akan lewat. Mereka pasti membawa harta. Maka pergilah kalian untuk memerangi mereka! Semoga Allah memberikan kalian kekuatan untuk mengkocar-kacirkan mereka."
Sementara itu, Abu Ayyub al-Anshari meriwayatkan: Pada saat kami berada di Madinah, Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Aku telah mendapatkan kabar bahwa kafilah Abu Sufyan tak lama lagi akan datang dari Syam. Maka, sepakatkah kalian bila kita menghadang dan menyerang mereka? Sebab, bisa jadi Allah akan memberikan kita kekuatan untuk mengambil harta rampasan dari mereka." Kami menja­wab, "Ya, kami sepakat." Lalu beliau pun berangkat dan kami ikut bersama beliau."

Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam saat itu tidak mengajak seluruh kaum muslimin; untuk pergi berperang. Beliau hanya mengajak orang-orang yang hadir di hadapan beliau waktu itu. Bahkan, beliau saat itu sempat tidak mengizinkan orang-orang dari dataran tinggi Madinah untuk datang ke perkumpulan itu. Maka dari itu, beliau pun juga tidak mencela siapa saja yang tidak hadir dan tidak mengikuti peperangan ini."

    Jumlah kekuatan kaum muslimin saat itu adalah 313 sampai 317 orang. Mereka terdiri dari kaum Muhajirin 82 atau 86 orang, Bani Aus 61 orang, dan kalangan Khazraj 170 orang. Mereka berja lan dengan hanya membawa 2 kuda dan 70 unta. Maka, setiap dua orang atau tiga saling bergantian dalam mengendarai satu unta.

Alkisah, Abu Lubabah dan Ali ibn Abi Thalib saat itu satu kelom pok dengan Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam dengan satu unta. Lalu, ketika giliran. Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam untuk berjalan kaki tiba, keduanya berkata, "Kami akan tetap berjalan mengawalmu." Mendengar ucapan itu, Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam menjawab,

"Tetapi, kalian berdua tidaklah lebih kuat dariku dan aku bukanlah orang yang mampu memberikan upah kepada kalian."

Di tengah perjalanan, tepatnya ketika mereka baru sampai Rauha, Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam memanggil Abu Lubabah dan memerin tahkannya untuk kembali ke Madinah. Sebelum itu, beliau memerintah kan Abdullah ibn Ummi Maktum berazan untuk melaksanakan shalat. Sedangkan orang yang menggantikan posisi Abu Lubabah menemani Rasulullah dalam regunya adalah Martsad ibn Abi Martsad.

Ketika Abu Sufyan menyadari akan bahaya yang mengintai rombongannya, ia mengutus Dhamdham ibn Amru al-Ghaffari agar pulang ke Mekah untuk meminta bala bantuan dari bangsa Quraisy. Dhamdham pun segera pergi ke Mekah.
Hasil gambar untuk perang badar kubra



Sesampainya di Mekah, ia menghentikan untanya sambil menutup hidungnya dan berupaya mengendalikan untanya. Lalu, ia merobek pakaiannya dan kemudian berteriak, "Wahai orang-orang Quraisy! Celaka, celaka! Harta kalian yang ada di Abu Sufyan sedang diintai Muhammad dan para sahabatnya. Aku tidak yakin kalian akan mendapatkannya kembali, maka selamatkanlah, selamatkanlah mereka!"

Orang-orang Quraisy pun bergegas berangkat pergi untuk membantu kafilah mereka. Di samping itu, mereka juga ingin bertemu secara langsung dengan kaum muslimin dalam sebuah pertempuran. Mereka berharap, bahwa pertempuran kali itu akan menyudahi, kekuatan kaum muslimin yang selama ini selalu merintangi jalur perdagangan mereka. Tidak ada satu pun para pembesar bangsa Quraisy yang tidak ikut dalam penyerbuan kali itu selain Abu Lahab. Namun, ia telah mengutus Ash ibn Hisyam untuk menggantikan posisinya. Ash melakukan hal tersebut sebagai ganti dari hutang yang dimilikinya yang berjumlah sekitar 4.000 dirham. Selain Abu Lahab, tidak ada satu pun keturunan bangsa Quraisy yang tidak hadir dalam peperangan tersebut kecuali Bani Adi.

Jumlah mereka mencapai 1.300 orang. Mereka membawa 100 tentara berkuda, 600 tentara berbaju besi, dan sejumlah unta yang sangat banyak jumlahnya. Pasukan bangsa Quraisy ini dipimpin oleh Abu Jahal.

Ketika merasa khawatir dengan ancaman Bani Bakar yang akan melakukan tindakan makar karena permusuhan suku ini terhadap bangsa Quraisy selama ini, kaum Quraisy hampir saja kembali ke Mekah dan mengurungkan niat mereka. Akan tetapi, tiba-tiba Iblis muncul dengan menyamar sebagai Suraqah ibn Malik al-Madlaji, pemimpin Bani Kinanah. Ia berkata kepada orang-orang Quraisy, "Aku adalah pendukung kalian dari Bani Kinanah. Dan aku menjamin tidak akan ada serangan apapun terhadap kalian dari Bani Kinanah." Lalu, Mereka pun dengan mantap meninggalkan kota Mekah sebagaimana diceritakan Allah dalam firman-Nya:

"Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang keluar dari kampung-kampung dengan rasa angkuh dan dengan maksud ria kepada manusia, serta menghalangi (orang) dari jalan Allah. Dan (ilmu) Allah meliputi apa yang mereka kerjakan." (QS. Al-Anfal: 47)


Alkisah, tiga hari sebelum kedatangan Dhamdham ibn Amru di Mekah untuk menyampaikan pesan Abu Sufyan, Atikah binti Abdul Muthalib telah memimpikan peristiwa tersebut. Ia berkata, "Aku melihat seorang laki-laki datang dengan menunggang untanya. Kemudian, ia berdiri di sebuah lembah yang sangat luas dan berkata, 'Wahai ahli Badar, berangkatlah untuk berperang selama tiga hari."

Lalu ia menceritakan mimpi itu sebagaimana berikut: Aku melihat orang itu mengambil sebongkah batu besar dan menjatuhkannya dari puncak gunung. Maka, batu itupun meluncur ke bawah hingga hancur berkeping-keping. Akibatnya, setiap rumah atau bangunan yang kemasukan oleh kepingannya pun hancur.

Dalam kisah ini diceritakan pula bantahan Abbas terhadap Abu Jahal ketika ditanya, "Mengapa semua ini bisa terjadi!", keinginannya untuk mencibir Abu Jahal dan keacuhan Abu Jahal terhadapnya ketika Dhamdham datang dan mengajak bangsa Quraisy untuk mencegah kaum muslimin untuk merampas kafilah mereka. Demikianlah, akhirnya mereka pun bersiap-siap dan kemudian pergi menuju Badar. Dan Allah membenarkan mimpi Atikah tersebut.

Abu Sufyan selalu teringat dengan berbagai bahaya yang berulang kali akan dilancarkan kaum muslimin terhadap dirinya. Karena itu, ketika kafilahnya sudah hampir mendekati Badar, ia menemui Majdi ibn Amru dan menanyakan keberadaan pasukan Rasulullah. Majdi mengatakan, bahwa dirinya baru saja melihat dua orang pengendara unta menderumkan kedua untanya di atas anak bukit. Lalu, keduanya menuangkan air ke tempat minum mereka dan kemudian pergi lagi.

Maka, Abu Sufyan bergegas mendatangi tempat menderumnya kedua unta mereka dan mengambil kotoran keduanya. Lalu, ia meremukkannya hingga mengetahui bahwa kedua unta itu berasal dari Madinah. Lantas, dengan cepat Abu Sufyan mengalihkan rombongannya dari jalan utama yang biasa mereka lalui dan terletak di sebelah kiri Badar. Kemudian, ia membawa kafilahnya menyusuri jalan di tepi pantai yang berada di bagian Barat. Walhasil, akhirnya ia selamat dari bahaya yang mengancamnya. Setelah itu, ia mengirim surat susulan kepada pasukan bangsa Quraisy yang tengah berada di Juhfah. Di dalam surat itu, ia memberitahukan keselamatannya dan mempersilahkan mereka untuk kembali ke Mekah.

Pasukan kaum kafir Mekah pun bersiap-siap untuk kembali. Akan tetapi, Abu Jahal menolak langkah itu. "Demi tuhan! Kita tidak boleh pulang sebelum kita sampai di Badar dan menetap di sana selama tiga hari. Kita akan menyembelih kambing, makan, minum khamr, dan dihibur oleh para penyanyi wanita. Ini, kita lakukan agar orang -orang Arab (kaum muslimin) mengetahui keberadaan, arah perjalanan, dan tujuan kita, sehingga mereka tidak berani lagi mengusik kita selamanya. "

Seluruh pasukan Mekah mengikuti perintah Abu Jahal tersebut, kecuali Akhnas ibn Syariq. Ia bersama kaumnya dari Bani Zahrah kembali ke Mekah. Selain Akhnas, Ali ibn Abi Thalib juga ikut kembali ke Mekah. Pasalnya, sebuah pembicaraannya dengan kaum Quraisy, mereka telah menuduh Bani Hasyim masih menjalin hubungan kekerabatan dengan Muhammad.

Lalu, bangsa Quraisy terus berjalan sampai mendekati wilayah Badar. Tepatnya, di balik bukit pasir pada bagian bibir lembah paling jauh, sampai ke bagian lembah Badar.

Ketika kedatangan pasukan Quraisy di Badar ini sampai ke telinga Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam, beliau berunding dengan para sahabatnya tentang langkah apa yang harus mereka lakukan. Ternyata, salah satu kelompok dari pasukan kaum muslimin merasa khawatir bahwa mereka belum siap menghadapi perang sebesar itu. Karena, menurut mereka ini, kekuatan kaum muslimin belum memiliki kemampuan dan perbekalan yang cukup untuk menghadapi perang tersebut. Demikianlah, mereka terus mendebat Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam.

"Sebagaimana Tuhanmu menyuruhmu pergi dari rumahmu dengan kebenaran, padahal sesungguhnya sebagian dari orang-orang yang beriman itu tidak menyukainya, mereka membantahmu dengan kebenaran sesudah nyata ( bahwa mereka pasti menang), seolah-olah mereka dihalau kepada kematian, sedang mereka melihat (sebab-sebab kematian itu)." (QS. Al-Anfal: 5-6) untuk meyakinkan pandangan mereka terhadap beliau. Maka dari itu, Allah berfirman, Kemudian, para pemimpin pasukan Muhajirin angkat bicara. Mereka mendukung pendapat yang menyatakan mereka harus tetap berangkat bertempur menyerang kaum Quraisy. Pendapat ini terlontar dari Abu Bakar, Umar, dan Miqdad ibn Amr. Salah satu perkataan Miqdad adalah, "Rasulullah, laksanakan apa yang telah diperintahkan Allah kepadamu, kami akan selalu menyertaimu. Demi Allah, kami tidak akan mengulangi perkataan Bani Israel kepada Musa, 'Berpe ranglah kamu dan Tuhanmu, karena kami akan tetap diam di sini!' Sungguh, kami hanya akan berkata, 'Pergilah kamu dan Tuhanmu, dan sesungguhnya para pasukan perang telah bersiap menyertai kalian berdua! Demi Dzat yang telah mengutusmu dengan kebenaran, seandainya kamu membawa kami ke sebuah tempat yang tertutup (telah dikepung musuh) pun, niscaya kami akan tetap berperang bersamamu tanpa memperdulikan mereka semua'."

Dalam riwayat lain, mereka berkata,

    "Kami tidak akan mengu capkan kata-kata yang diucapkan oleh kaum Musa, 'Pergilah engkau dan Tuhanmu. Berperanglah kalian berdua!' Sebab, sesungguhnya kami akan berperang di samping kanan, kiri, depan, dan belakangmu."

Ucapan Miqdad tersebut membuat Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam bahagia.

Setelah mendengar pernyataan beberapa pemimpin pasukan kaum Muhajirin, Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam berkata, "Wahai orang-orang, siapa lagi yang akan melontarkan pendapatnya kepadaku?" Pertanyaan ini Rasulullah maksudkan untuk memancing pendapat dan pandangan dari para pemimpin pasukan Anshar. Sebab, mereka adalah bagian terbesar dari tentara Islam waktu itu. Di samping itu, karena perjanjian Aqabah Kubra pada dasarnya juga tidak mewajibkan masyarakat Anshar untuk melindungi Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam di luar kota Madinah.

Lantas, Sa'ad ibn Muadz-pembawa bendera Anshar-pun angkat suara. Ia memahami maksud perkataan Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam tersebut. Maka, ia pun segera bangkit dan berkata, "Demi Allah, benarkah yang engkau maksudkan adalah kami?" Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam menjawab, "Benar." Maka Sa'ad berkata, "Kami telah beriman kepadamu, sehingga kami akan selalu membenarkanmu. Dan kami bersaksi bahwa ajaran yang engkau bawa adalah benar. Karena itu, kami berjanji untuk selalu mentaati dan mendengarkan perintahmu. Berangkatlah wahai Rasululah Shalallahu 'alaihi wasallam, jika itu yang engkau kehendaki. Demi Dzat yang telah mengutusmu dengan nilai-nilai kebenaran, seandainya engkau membawa kami ke laut itu, kemudian engkau benar-benar mengarunginya, niscaya kami pun akan mengikutimu. Sungguh, tidak akan ada satu pun tentara kami yang akan tertinggal dan kami tidak takut sedikit pun kalau memang engkau memper temukan kami dengan musuh-musuh kami esok hari. Sesungguhnya, kami adalah orang-orang yang terbiasa hidup dalam peperangan dan melakukan pertempuran. Semoga Allah memperlihatkan kepadamu berbagai hal dari kami yang dapat memberikan kebahagiaan bagimu. Maka, marilah kita berjalan menuju berkah Allah."

Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam merasa bahagia dengan ucapan Sa'ad tersebut hingga beliau semakin bersemangat. Kemudian, beliau berkata, "Berjalanlah kalian (menuju medan perang) dan beritahukan berita gembira ini. Karena, Allah telah menjanjikan kepadaku akan memberi salah satu dari kedua belah pihak. Demi Allah, sekarang ini aku seperti melihat tempat kekalahan kaum (Quraisy)." Lalu, mereka pun berangkat.
Di tengah perjalanan, tepatnya di lembah al-Wabirah, seorang laki-laki musyrik datang menjumpai beliau. Ia terkenal sebagai seorang pemberani dan kuat. Ia meminta kepada Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam agar diperbolehkan bergabung dengan pasukan muslimin untuk berperang. Akan tetapi, Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam menjawab, "Pulanglah! Aku tidak akan pernah meminta pertolongan kepada seorang musyrik." Pada saat beliau berada di dekat pohon. Laki-laki ini mengungkapkan keinginannya untuk kedua kali. Pada saat beliau tengah berada di padang pasir, laki-laki ini kembali mendatanginya dan mengungkapkan keinginan nya untuk yang ketiga kali. Akan tetapi, beliau tetap menjawab dengan jawaban yang sama. Akhirnya, laki-laki tersebut masuk Islam dan beliau pun baru mengizinkannya ikut bergabung.
Ketika hampir sampai di Shafra, Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam mengutus Basbas al-Juhni dan Adi ibn Abi Zaghaba al-Juhni ke Badar untuk mengecek dan mencari informasi tentang Abu Sufyan dan kafilah nya.

Riwayat lain menuturkan: Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam dan Abu Bakar sendiri yang berangkat untuk melakukan tugas pengintaian ini. Lantas, keduanya dengan seorang lelaki tua. Kepada orang itu, keduanya menanyakan keadaan pasukan kaum Quraisy. Namun, orang itu meminta agar beliau dan Abu Bakar mengatakan terlebih dahulu siapa mereka sebenarnya. Keduanya sepakat dengan syarat itu, tetapi setelah orang itu memberikan informasi yang mereka inginkan. Maka, laki -laki itu mengabarkan kepada Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam bahwa pasukan Quraisy telah mendengar kedatangan Muhammad dan para sahabatnya pada hari 'ini' dan 'itu'. "Apabila kalian ingin membuktikan, silahkan lihat mereka (kaum muslimin) di tempat 'ini'(tempat kaum muslimin saat itu berkemah)," ucapnya. Kemudian ia menambahkan, "Bila kalian ingin melihat keberadaan pasukan Quraisy, datanglah ke tempat ini (tempat kaum Quraisy berkumpul waktu itu)."

Setelah itu, orang itu berkata, "Nah, sekarang katakanlah, dari mana kalian berdua ini?" Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam menjawab, "Kami dari daerah perairan." Kemudian keduanya langsung beranjak pergi meninggalkan orang itu penuh penasaran. "Dari daerah perairan? Apakah mereka dari Irak?" tanyanya dalam hati.

Pada sore harinya, Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam mengutus Ali, Zubair, dan Sa'ad ibn Abi Waqqash dengan disertai beberapa orang sahabat untuk mencari informasi tentang gerakan dan keadaan musuh. Kemudian, di sebuah mata air mereka bertemu dengan dua orang pemuda yang bertugas menyediakan air minum pasukan Mekah. Maka, mereka pun membawa kedua pemuda itu ke hadapan Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam. Namun, saat itu beliau tengah melaksanakan shalat. Akhirnya, kedua pemuda itu langsung diinterogasi oleh para sahabat. Ketika ditanya tentang siapa mereka, keduanya mengaku sebagai penyedia air minum Pasukan Quraisy. Namun, para sahabat belum percaya dengan jawaban kedua pemuda tersebut. Bahkan, mereka mengira keduanya telah berbohong. Sebab, mereka masih meyakini keduanya adalah budak milik Abu Sufyan. Pasalnya, saat itu pikiran dan bayangan para shahabat masih tertuju kepada kafilah dagang Quraisy. Lantas, mereka pun beramai -ramai memukuli dua pemuda itu hingga dengan terpaksa mengaku sebagai budak milik Abu Sufyan.

Selesai shalat, Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam menjumpai para sahabatnya dan mencela perbuatan mereka. Sebab, mereka justru memukuli keduanya saat berkata jujur dan membiarkan keduanya ketika berdusta. Kemudian, Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam menanyakan kepada keduanya tentang tempat pasukan Mekah berada. Kedua pemuda itu menjawab, "Mereka berada di balik bukit pasir ini, tepatnya di bibir lembah yang paling ujung."

Lalu, ketika Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam menanyakan jumlah dan kesiapan tentara Quraisy, keduanya tidak dapat mengatakannya dengan pasti. Keduanya hanya mengatakan, bahwa setiap hari mereka menyembelih unta dan kambing antara sembilan sampai sepuluh ekor. Dari sini, Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam menyimpulkan bahwa jumlah mereka sekitar sembilan ratus sampai seribu tentara. Selain itu, kedua budak laki-laki tersebut memberitahukan kepada beliau nama-nama pembesar Mekah yang ada di dalam pasukan Quraisy.

Maka, Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam berkata kepada para sahabatnya, "Itulah Mekah. Ia telah melemparkan kepada kalian potongan-potongan hatinya." Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam mengatakan hal itu seraya menunjuk pada tempat-tempat yang akan menjadi tempat terbunuhnya pemimpin bangsa Quraisy. Dan kemudian terbukti, tempat kematian mereka tidak jauh dari yang ditunjukkan Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam.

Pada malam harinya, Allah menurunkan hujan untuk mensuci kan kaum muslimin dan menaklukkan bumi di bawah kaki mereka. Sebaliknya, hujan tersebut menjadi bencana besar bagi kaum musyrikin. Dalam menggambarkan kondisi pada waktu itu, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

"Dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk menyucikan kamu dengan hujan itu dan menghilangkan dari kamu gangguan-gangguan setan dan untuk menguatkan hatimu dan memperteguh dengannya telapak kaki(mu)." (QS. Al-Anfal: 11)

Salah satu nikmat yang juga telah Allah berikan kepada kaum muslimin adalah rasa kantuk yang menjadikan mereka merasa tentram dan tenang, sebagaimana yang tertulis pada awal ayat yang menje laskan diturunkannya hujan, "(Ingatlah), ketika Allah menjadikan kamu mengantuk sebagai suatu penentramanan dari pada-Nya, dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit .... "

Kisah serupa juga diriwayatkan oleh Ahmad dengan isnad yang sampai kepada Anas ibn Malik. Ia mengatakan: Abu Thalhah menceritakan: Kami tiba-tiba mengantuk. Padahal, saat itu kami tengah berada di barisan-barisan kami untuk menghadapi perang Badar. Aku termasuk salah seorang yang dilanda rasa kantuk itu hingga pedang yang ada di genggamanku terjatuh dan kemudian aku mengambilnya. Namun, pedang tersebut kembali terjatuh dan aku pun mengambilnya

Allah juga memberikan nikmat yang begitu besar kepada kaum Muslimin, yaitu dengan menciptakan perselisihan di tengah-tengah barisan musuh mereka. Tentang hal ini, Ahmad menuturkan: Sesungguhnya Atabah ibn Rabi'ah telah membujuk beberapa orang dari kaumnya untuk meninggalkan peperangan dengan mengingatkan mereka tentang akibat dan bahaya yang akan melanda mereka. "Ketahuilah, sesungguhnya kaum muslimin nanti itu akan berjuang mati-matian hingga titik darah penghabisan," ucapnya memberi alasan. Mendengar hal itu, Abu Jahal menuduh Rabi'ah ketakutan.

Sementara itu, Bazzar menceritakan: Saat itu Atabah berkata kepada kaumnya, "Sesama saudara akan saling membunuh satu sama lain. Sungguh, hal itu akan meninggalkan kepahitan yang tak akan pernah hilang selamanya." Maka, Abu Jahal pun menuduhnya takut. Tentu saja, ia tak terima dengan tuduhan itu. Lalu ia memanggil saudara laki-laki dan putranya untuk bermain anggar dengan dirinya dengan satu lawan dua.

Saat itu, Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam melihat Atabah sedang mengendarai unta merah. Kemudian, beliau bersabda, "Bila mereka ingin selamat, seharusnya mereka mengikuti perkataan si penunggang unta merah itu. Sungguh, bila mereka mendengar perkataannya, niscaya mereka akan selamat." Akan tetapi, Allah berkehendak lain. Mereka mengingkari dan tidak mematuhi saran Atabah. Dan sarannya itu terpotong oleh dendam kesumat Abu Jahal terhadap Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam dan kaum muslimin.

Rabu, 10 Oktober 2012

JANGAN MENYIKSA DIRI

Allah s.w.t. menciptakan dunia seisinya untuk kemudahan manusia itu sendiri, oleh itu hendaklah manusia memanfaatkannya. 
Sahabat Anas menceritakan bahawa satu hari Rasulullah s.a.w melihat seorang yang dipapah oleh kedua orang anaknya menunaikan haji dengan berjalan kaki. Apabila melihat keadan itu maka Baginda s.a.w. bertanya, "Mengapa dengan orang ini?" Dua anak itu berkata, "Dia bernazar hendak menunaikan hai dengan berjalan kaki." Rasulullah s.a.w berkata, "Sesungguhnya Allah s.w.t. tidak memerlukan orang yang menyiksakan dirinya." Ketika itu juga Rasulullah memerintahkan kepada orang itu agar naik kenderaan untuk menunaikan haji. 

Dalam satu peristiwa lain, seseorang menziarahi tuan gurunya yang sudah lama berpisah, dia berjalan kaki beberapa batu ke rumah gurunya dengan maksud untuk mendapat pahala yang lebih. Setiba di rumah gurunya itu, tuan guru itu bertanya, "Kamu datang dengan apa?" Anak murid itu berkata, "Saya berjalan kaki." Apabila tuan guru itu mendengar jawapan anak muridnya itu dia berkata : "Dia telah menciptakan kuda, baghal dan keldai agar kamu mengenderainya."
Beliau adalah Shafiyyah binti Huyai binti Akhthan bin Sa'yah cucu dari Al-Lawi bin Nabiyullah Israel bin Ishaq bin Ibrahim 'Alaihi wa Salam, termasuk keturunan Rasulullah Harun 'Alaihi wa Salam. Shafiyyah adalah seorang wanita yang cerdas dan memiliki kedudukan yang terpandang, berparas cantik dan bagus diennya. Sebelum Islamnya beliau menikah dengan Salam bin Abi Al-Haqiq, kemudian setelah itu dia menikah dengan Kinanah bin Abi Al-Haqiq. Keduanya adalah penyair yahudi. Kinanah terbunuh pada waktu perang Khaibar, maka beliau termasuk wanita yang di tawan bersama wanita-wania lain. Bilal "Muadzin Rasululllah" menggiring Shafiyyah dan putri pamannya. mereka melewati tanah lapang yang penuh dengan mayat-mayat orang Yahudi. Shafiyyah diam dan tenang dan tidak kelihatan sedih dan tidak pula meratap mukanya, menjerit dan menaburkan pasir pada kepalanya.

Kemudian keduanya dihadapkan kepada Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Salam, Shafiyyah dalam keadaan sedih namun tetap diam, sedangkan putri pamannya kepalanya penuh pasir, merobek bajunya karena merasa belum cukup ratapannya. Maka Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Salam bersabda (sedangkan tersirat rasa tidak suka pada wajah beliau): "Enyahkanlah syetan ini dariku."


Kemudian beliau Shalallahu 'Alaihi wa Salam mendekati Shafiyyah kemudian mengarahkan pandangan atasnya dengan ramah dan lembut, kemudian bersabda kepada Bilal:
"Wahai Bilal aku berharap engkau mendapat rahmat tatkala engkau bertemu dengan dua orang wanita yang suaminya terbunuh."

Selanjutnya Shafiyyah dipilih untuk beliau dan beliau mengulurkan selendang beliau kepada Shafiyyah, hal itu sebagai pertanda bahwa Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Salam telah memilihnya untuk dirinya. Hanya kaum muslimin tidak mengetahui apakah Shafiyyah di ambil oleh Rasulullah sebagai istri atau sebagai budak atau sebagai anak? Maka tatkala beliau berhijab Shafiyyah, maka barulah mereka tahu bahwa Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Salam mengambilnya sebagai istri. Di dalam hadist yang diriwayatkan oleh Anas radhiallaahu 'anhu bahwa Rasulullah tatkala mengambil Shafiyyah binti Huyai beliau bertanya kepadanya, "Maukah engkau menjadi istriku?" Maka Shafiyyah menjawab, "Ya Rasulullah sungguh aku telah berangan-angan untuk itu tatkala masih musyrik, maka bagaimana mungkin aku tidak inginkan hal itu manakala Allah memungkinkan itu saat aku memeluk Islam?"


Kemudian tatkala Shafiyyah telah suci Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Salam menikahinya, sedangkan maharnya adalah merdekanya Shafiyyah. Nabi Shalallahu 'Alaihi wa Salam menanti sampai Khaibar kembali tenang. Setelah beliau perkirakan rasa takut telah hilang pada diri Shafiyyah, beliau mengajaknya pergi. Shafiyyah yang beliau bawa di belakang beliau, kemudian beranjak menuju ke sebuah rumah yang berjarak enam mil dari Khaibar. Nabi Shalallahu 'Alaihi wa Salam menginginkan diri Shafiyyah ketika itu, namun dia menolaknya. Ada rasa kecewa pada diri Nabi karena penolakan tersebut.

Kemudian Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Salam melanjutkan perjalanannya ke Madinah bersama bala tentaranya, tatkala mereka sampai di Shabba' jauh dari Khaibar mereka berhenti untuk beristirahat. Pada saat itulah timbul keinginan untuk merayakan walimatul 'urs. Maka didatangkanlah Ummu Anas bin Malik radhiallaahu 'anha, beliau menyisir rambut Shafiyyah, menghiasi dan memberi wewangian hingga karena kelihaian dia dalam merias, Ummu Sinan Al-Aslamiyah berkata bahwa beliau belum pernah melihat wanita yang lebih putih dan cantik dari Shafiyyah. Maka diadakanlah walimatul 'urs, maka kaum muslimin memakan lezatnya kurma, mentega dan keju Khaibar hingga kenyang. Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Salam masuk kekamar Shafiyyah sedangkan masih terbayang pada beliau penolakan Shafiyyah tatkala ajakan beliau yang pertama, maka Shafiyyah menerima Nabi untuk menjalani malam pertama dengan lembut beliau menceritakan sebuah cerita yang menakjubkan. Beliau bercerita bahwa tatkala malam pertamanya dengan Kinanah bin Rabi', pada malam itu beliau bermimpi bahwa bulan telah jatuh kekamarnya. Tatkala bangun beliau ceritakan hal itu kepada Kinanah. maka dia berkata dengan marah:"Mimpimu tidak ada takwil lain melainkan kamu berangan-angan mendapatkan raja Hijaz Muhammad. Maka dia tampar wajahnya beliau dengan keras sehingga bekasnya masih ada, Nabi Shalallahu 'Alaihi wa Salam mendengarnya sambil tersenyum kemudian bertanya,"Mengapa engkau menolak dariku tatkala kita menginap yang pertama? "Maka beliau menjawab, 'Saya khawatir terhadap diri anda karena dekat Yahudi. Maka menjadi berseri-serilah wajah Nabi yang mulia serta lenyaplah kekecewaan hatinya maka Nabi melewati malam pertamanya tatkala Shafiyyah berumur 17 tahun.

Tatkala rombongan sampai di Madinah Rasulullah perintahkan agar pengantin wanita tidak langsung di ketemukan dengan istri-istri beliau yang lain. Beliau turunkan Shafiyyah di rumah sahabatnya yang bernama Haritsah bin Nu'man. Ketika wanita-wanita Anshar mendengar kabar tersebut, mereka datang untuk melihat kecantikannya. Nabi Shalallahu 'Alaihi wa Salam memergoki 'Aisyah keluar sambil menutupi dirinya serta berhati-hati (agar tidak dilihat Nabi) kemudian beliau masuk kerumah Haritsah bin Nu'man. Maka beliau menunggunya sampai 'Aisyah keluar. Maka tatkala beliau keluar, Rasulullah memegang bajunya seraya bertanya dengan tertawa, "bagaimana menurut mendapatmu wahai yang kemerah-merahan?"'Aisyah menjawab sementara cemburu menghiasi dirinya, "Aku lihat dia adalah wanita Yahudi."Maka Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Salam membantahnya dan bersabda:
"Jangan berkata begitu...karena sesungguhnya dia telah Islam dan bagus keislamannya."

Selanjutnya Shafiyyah berpindah ke rumah Nabi menimbulkan kecemburuan istri-istri beliau yang lain karena kecantikannya. Mereka juga mengucapkan selamat atas apa yang telah beliau raih. Bahkan dengan nada mengejek mereka mengatakan bahwa mereka adalah wanita-wanita Quraisy, wanita-wanita Arab sedangkan dirinya adalah wanita asing.

Bahkan suatu ketika sampai keluar dari lisan Hafshah kata-kata, "Anak seorang Yahudi" hingga menyebabkan beliau menangis. Tatkala itu Nabi masuk sedangkan Shafiyyah masih dalam keadaan menangis. Beliau bertanya, "Apa yang membuatmu menangis?" Beliau menjawab, Hafshah mengatakan kepadaku bahwa aku adalah anak seorang Yahudi. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
"Sesungguhnya engkau adalah seorang putri dari seorang Nabi dan pamanmu adalah seorang Nabi, suamipun juga seorang Nabi lantas dengan alasan apa dia mengejekmu?" Kemudian beliau bersabda kepada Hafshah, "Bertakwalah kepada Allah wahai Hafshah!"

Maka kata-kata Nabi itu menjadi penyejuk, keselamatan dan keamanan bagi Shafiyyah. Selanjutnya manakala dia mendengar ejekan dari istri Nabi yang lain maka diapun berkata: "Bagaimana bisa kalian lebih baik dariku, padahal suamiku adalah Muhammad, ayahku adalah Harun dan pamanku adalah Musa?"

Shafiyyah radhiallaahu 'anha wafat tatkala berumur sekitar 50 tahun, ketika masa pemerintahan Mu'awiyah. Beliau dikuburkan di Baqi' bersama Ummahatul Mukminin. Semoga Allah meridhai mereka semua.

Selasa, 10 Agustus 2010

My Heart

Hati terkadang kau tersenyum ceria
Terkadang kau merasa terluka disakiti
tapi kau selalu tetap tegar
Walaupun kau dihantam badai  bak bertubi tubi
Walaupun kau dicabik dan disakiti
Engkau tetap saja dalam  lingkaran orbitmu
Hati
Kau sangat bermamfaat dan berguna untuk ku  dan untuk semua orang 
Hati
Taukah kau tanpa dirimu di dalam jiwaku maka binasalah diriku

Senin, 05 April 2010

DIPOTONG TANGAN KERANA MEMBERI SEDEKAH

Dikisahkan bahawa semasa berlakunya kekurangan makanan dalam kalangan Bani Israel, maka lalulah seorang fakir menghampiri rumah seorang kaya dengan berkata, "Sedekahlah kamu kepadaku dengan sepotong roti dengan ikhlas kerana Allah s.w.t." Setelah fakir miskin itu berkata demikian maka keluarlah anak gadis orang kaya, lalu memberikan roti yang masih panas kepadanya. Sebaik sahaja gadis itu memberikan roti tersebut maka keluarlah bapa gadis tersebut yang bakhil itu terus memotong tangan kanan anak gadisnya sehingga putus. Semenjak dari peristiwa itu maka Allah s.w.t pun mengubah kehidupan orang kaya itu dengan menarik kembali harta kekayaannya sehingga dia menjadi seorang yang fakir miskin dan akhirnya dia meninggal dunia dalam keadaan yang paling hina.

Anak gadis itu menjadi pengemis dan meminta-minta dari satu rumah ke rumah. Maka pada suatu hari anak gadis itu menghampiri rumah seorang kaya sambil meminta sedekah, maka keluarlah seorang ibu dari rumah tersebut. Ibu tersebut sangat kagum dengan kecantikannya dan mempelawa anak gadis itu masuk ke rumahnya. Ibu itu sangat tertarik dengan gadis tersebut dan dia berhajat untuk mengahwinkan anaknya dengan gadis tersebut. Maka setelah perkahwinan itu selesai, maka si ibu itu pun memberikan pakaian dan perhiasan bagi menggantikan pakaiannya. 

Pada suatu malam apabila sudah dihidang makanan malam, maka si suami hendak makan bersamanya. Oleh kerana anak gadis itu kudung tangannya dan suaminya juga tidak tahu bahawa dia itu kudung, manakala ibunya juga telah merahsiakan tentang tangan gadis tersebut. Maka apabila suaminya menyuruh dia makan, lalu dia makan dengan tangan kiri. Apabila suaminya melihat keadaan isterinya itu dia pun berkata, "Aku mendapat tahu bahawa orang fakir tidak tahu dalam tatacara harian, oleh itu makanlah dengan tangan kanan dan bukan dengan tangan kiri." 

Setelah si suami berkata demikian, maka isterinya itu tetap makan dengan tangan kiri, walaupun suaminya berulang kali memberitahunya. Dengan tiba-tiba terdengar suara dari sebelah pintu, "Keluarkanlah tangan kananmu itu wahai hamba Allah, sesungguhnya kamu telah mendermakan sepotong roti dengan ikhlas kerana Ku, maka tidak ada halangan bagi-Ku memberikan kembali akan tangan kananmu itu." 

Setelah gadis itu mendengar suara tersebut, maka dia pun mengeluarkan tangan kanannya, dan dia mendapati tangan kanannya berada dalam keadaan asalnya, dan dia pun makan bersama suaminya dengan menggunakan tangan kanan. Hendaklah kita sentiasa menghormati tetamu kita, walaupun dia fakir miskin apabila dia telah datang ke rumah kita maka sesungguhnya dia adalah tetamu kita. Rasulullah s.a.w telah bersabda yang bermaksud, "Barangsiapa menghormati tetamu, maka sesungguhnya dia telah menghormatiku, dan barangsiapa menghormatiku, maka sesungguhnya dia telah memuliakan Allah s.w.t. Dan barangsiapa telah menjadi kemarahan tetamu, dia telah menjadi kemarahanku. Dan barangsiapa menjadikan kemarahanku, sesungguhnya dia telah menjadikan murka Allah s.w.t." 

Sabda Rasulullah s.a.w yang bermaksud, "Sesungguhnya tetamu itu apabila dia datang ke rumah seseorang mukmin itu, maka dia masuk bersama dengan seribu berkah dan seribu rahmat."